Saya Ikut Mendorong Perahu Pinisi di Tanah Beru, dan Baru Sadar Itu Mirip Banget sama Cara Kerja Pajak Kita
Beranda Artikel Sejarah dan Budaya / Kesadaran Pajak / Gotong Royong

Saya Ikut Mendorong Perahu Pinisi di Tanah Beru, dan Baru Sadar Itu Mirip Banget sama Cara Kerja Pajak Kita

Redaksi InfoPajak 2026-07-20 7 Menit Baca
Ilustrasi perahu Pinisi tradisional di galangan kapal Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Ilustrasi perahu Pinisi tradisional di galangan kapal Tanah Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan
TL;DR: Ikut mendorong perahu Pinisi dalam tradisi Anyorrong Lopi di Bulukumba bikin saya sadar, gotong royong itu jugalah yang menopang penerimaan pajak negara kita.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mampir ke Desa Tanah Beru, Kecamatan Bira, Kabupaten Bulukumba, sekitar empat jam perjalanan darat dari Makassar. Kebetulan pas ke sana, saya sempat menyaksikan langsung sebuah perahu Pinisi yang baru selesai dibangun, siap didorong ke laut lepas. Tanpa pikir panjang, saya ikut nimbrung membantu mendorong bersama warga setempat.

Waktu itu saya cuma mikir ini seru buat pengalaman liburan. Tapi belakangan, setelah merenungkannya lagi, saya jadi sadar tradisi sederhana itu ternyata menyimpan makna yang jauh lebih dalam, terutama soal bagaimana negara ini sebenarnya berjalan.

Warisan Dunia yang Berasal dari Tanah Beru

Perahu Pinisi bukan sembarang kerajinan. Pada 2017, UNESCO menetapkan seni pembuatan perahu Pinisi atau Art of Boatbuilding sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage). Di kancah internasional, Pinisi sudah dikenal sebagai lambang kerajinan perahu layar, dengan pengetahuan dan keterampilan pembuatannya diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Satu unit perahu bisa melibatkan puluhan sampai ratusan pekerja yang bahu-membahu sampai perahu itu benar-benar siap mengarungi lautan.

Prosesnya sendiri dikerjakan dengan penuh ketelitian dan presisi tinggi. Para ahli pengrajinnya disebut Panrita Lopi, dari kata panrita yang berarti ahli dan lopi yang berarti perahu. Julukan Bulukumba sebagai "Bumi Panrita Lopi" bukan tanpa alasan, karena di sinilah para pengrajin perahu menghasilkan karya seni yang sudah diakui dunia. Ada juga istilah Sawi, yaitu pengawas kerja para pengrajin, dan Sambalu, sebutan untuk pelanggan yang memesan perahu.

Momen Mendorong Perahu yang Ternyata Sarat Makna

Setelah perahu rampung dibangun dan siap berlayar, ada tradisi peresmian yang disebut Anyorrong Lopi, dari kata anyorrong yang berarti mendorong. Tradisi ini dilakukan dengan cara mendorong perahu bersama-sama dari pantai tempat perahu dibangun menuju lautan lepas, melibatkan pejabat daerah, pemuka adat, para pengrajin, dan masyarakat setempat.

Saat saya ikut mendorong perahu itu, rasanya berat sekali kalau cuma dilakukan sendirian atau oleh segelintir orang. Tapi begitu banyak tangan ikut mendorong bersama, perahu sebesar itu bisa bergerak dengan cukup mulus menuju laut. Momen itulah yang bikin saya berpikir, ini persis analogi yang tepat untuk menggambarkan bagaimana penerimaan pajak menopang perjalanan bangsa ini.

Negara kita bisa diibaratkan sebagai perahu besar yang hendak mengarungi lautan menuju tujuan bernegara. Para pendorongnya adalah wajib pajak, yang secara bergotong royong "mendorong" bangsa ini agar siap mengarungi perjalanannya. Semakin banyak dan semakin kompak yang ikut mendorong, semakin ringan dan lancar pula perahu itu bergerak.

Peran Wajib Pajak Bukan Cuma Simbolis, Ini Buktinya

Kontribusi pajak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang selalu jadi tonggak utama, konsisten menyumbang lebih dari 70% penerimaan negara setiap tahunnya. Tapi saya rasa penting juga untuk jujur soal kondisi terkininya, bukan cuma menonjolkan capaian yang manis-manis saja.

Faktanya, penerimaan pajak justru mengalami shortfall alias tidak mencapai target dua tahun berturut-turut belakangan ini. Pada 2024, realisasi penerimaan pajak tercatat Rp1.932,4 triliun atau 97,2% dari target APBN. Pada 2025, kondisinya lebih berat lagi: realisasi hanya Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target, dengan selisih kekurangan sekitar Rp271,7 triliun, dipengaruhi pelemahan harga komoditas dan peningkatan restitusi pajak di semester pertama.

Justru dari situ saya melihat analogi Anyorrong Lopi ini makin relevan. Ketika perahu (baca: negara) sedang menghadapi ombak yang lebih berat, di situlah kekompakan para pendorong (baca: wajib pajak) justru makin dibutuhkan. Bukan waktunya untuk saling lepas tangan, melainkan momentum untuk saling menopang lebih erat lagi.

DJP Juga Terus Membenahi "Pegangan" agar Lebih Mudah Didorong Bersama

Untuk memudahkan wajib pajak berperan sebagai "pendorong" ini, Direktorat Jenderal Pajak terus menjalankan Reformasi Perpajakan secara bertahap. Salah satu yang paling terasa adalah pemadanan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK), yang mempermudah wajib pajak dalam layanan administrasi perpajakan, perizinan, perbankan, sampai layanan publik lainnya.

Selain itu, ada juga fitur Taxpayer Account Management (TAM), yang kini menjadi bagian terintegrasi dari sistem Coretax DJP. Fitur ini berfungsi layaknya "buku tabungan" perpajakan digital, memungkinkan wajib pajak memantau seluruh informasi perpajakannya, mulai dari riwayat pelaporan SPT, status pembayaran, sampai hak dan kewajiban perpajakan lainnya, semuanya lewat satu dasbor terintegrasi tanpa perlu berpindah-pindah aplikasi seperti sistem lama.

Yang Saya Bawa Pulang dari Tanah Beru

Sepulang dari Tanah Beru, saya jadi melihat hubungan pajak dan negara dengan cara yang berbeda. Beberapa hal yang saya simpulkan:

  • Gotong royong bukan sekadar slogan. Tradisi Anyorrong Lopi menunjukkan secara harfiah bagaimana kerja sama kolektif bisa menggerakkan sesuatu yang berat sekalipun, persis seperti peran kolektif wajib pajak dalam menopang APBN.
  • Kondisi penerimaan pajak sedang tidak mudah, dengan shortfall dua tahun berturut-turut, sehingga peran aktif wajib pajak justru semakin krusial di masa-masa seperti ini, bukan waktunya untuk abai.
  • DJP terus mempermudah "pegangan" bagi wajib pajak, lewat pemadanan NPWP-NIK dan integrasi TAM dalam Coretax, supaya proses "mendorong" bersama ini terasa lebih ringan.

Sama seperti perahu Pinisi yang butuh puluhan tangan untuk bisa didorong sampai ke laut lepas, perjalanan bangsa ini menuju kemakmuran bersama juga butuh kontribusi kolektif dari seluruh wajib pajak. Semangat Anyorrong Lopi ini, kalau terus dijaga, bisa jadi pengingat sederhana namun kuat: pajak Indonesia, semakin berarti kalau kita semua ikut mendorong bersama-sama.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Q: Apa itu tradisi Anyorrong Lopi dalam budaya pembuatan Perahu Pinisi?

Anyorrong Lopi adalah tradisi peresmian perahu Pinisi yang baru selesai dibangun, dilakukan dengan cara mendorong perahu bersama-sama dari pantai tempat perahu dibuat menuju lautan lepas, melibatkan pejabat daerah, pemuka adat, pengrajin, dan masyarakat setempat.

Q: Sejak kapan seni pembuatan Perahu Pinisi diakui UNESCO?

UNESCO menetapkan seni pembuatan Perahu Pinisi atau Art of Boatbuilding sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2017.

Q: Apa arti istilah Panrita Lopi, Sawi, dan Sambalu?

Panrita Lopi adalah sebutan untuk ahli pengrajin perahu, Sawi adalah pengawas para pengrajin, dan Sambalu adalah pelanggan yang memesan pembuatan perahu.

Q: Berapa besar kontribusi pajak terhadap APBN Indonesia?

Pajak secara konsisten menyumbang lebih dari 70% total penerimaan negara dalam APBN setiap tahunnya.

Q: Bagaimana kondisi realisasi penerimaan pajak Indonesia pada 2024 dan 2025?

Penerimaan pajak mengalami shortfall dua tahun berturut-turut. Pada 2024 realisasinya Rp1.932,4 triliun (97,2% dari target), dan pada 2025 turun menjadi Rp1.917,6 triliun (87,6% dari target), dengan selisih kekurangan sekitar Rp271,7 triliun.

Q: Apa penyebab utama shortfall penerimaan pajak pada 2025?

Penyebabnya antara lain pelemahan harga komoditas, peningkatan restitusi pajak, serta tekanan yang cukup dalam pada semester pertama 2025, meski kinerja mulai membaik pada semester kedua.

Q: Apa manfaat pemadanan NPWP dengan NIK bagi wajib pajak?

Pemadanan ini memudahkan wajib pajak dalam proses layanan administrasi perpajakan, layanan perizinan, perbankan, serta akses ke layanan publik lainnya.

Q: Apa itu Taxpayer Account Management (TAM) dalam Coretax DJP?

TAM adalah fitur dalam sistem Coretax yang berfungsi seperti buku tabungan perpajakan digital, memungkinkan wajib pajak memantau riwayat pelaporan SPT, status pembayaran, serta hak dan kewajiban perpajakannya secara terintegrasi dalam satu dasbor.

Q: Apa hubungan antara tradisi Anyorrong Lopi dengan peran wajib pajak?

Tradisi ini menjadi analogi bagaimana negara diibaratkan sebagai perahu yang perlu didorong bersama-sama menuju tujuan bernegara, dengan wajib pajak berperan sebagai para pendorong yang bergotong royong lewat kontribusi pajaknya.

Q: Apa pesan utama dari analogi Perahu Pinisi terhadap kesadaran pajak?

Pesannya adalah pentingnya kontribusi kolektif dan gotong royong wajib pajak, terutama di masa-masa penerimaan pajak sedang menghadapi tantangan, agar perjalanan bangsa menuju kemakmuran bersama tetap bisa berjalan.

Bagikan Artikel Ini