Ditempatkan di Pulau Seberang, Saya Belajar Kalau Rindu Rumah Itu Nggak Perlu Malu Diakui
Jam di dinding kantor sudah menunjukkan pukul 15.50, sepuluh menit lagi menuju waktu tutup layanan, ketika seorang bapak tua datang tergopoh-gopoh sambil membawa map lusuh berisi fotokopi KTP dan Kartu Keluarga. Napasnya masih terengah, mungkin karena harus menempuh jalan berbatu dari kampungnya di pedalaman Sumba menuju kantor kami di kota kabupaten.
"Pak, saya mau tanya soal NPWP anak saya yang mau daftar kerja," katanya sambil menyeka keringat.
Saya persilakan duduk, meski jam layanan sudah nyaris habis. Rasanya nggak tega membiarkan beliau pulang lagi tanpa kepastian, mengingat jarak yang harus ditempuhnya bukan main jauh.
Penjelasan Sederhana yang Selalu Bikin Wajah Wajib Pajak Berubah Lega
"Bapak, sebenarnya sekarang sudah nggak perlu bikin NPWP terpisah lagi. NIK di KTP itu otomatis berfungsi sebagai NPWP juga. Anak Bapak tinggal pastikan datanya sudah padan saja di sistem," jelas saya sambil menunjukkan cara ceknya lewat aplikasi di ponsel bapak itu.
Wajahnya langsung berubah cerah. "Oh, jadi nggak usah repot bikin kartu baru lagi ya, Pak? Kirain harus balik lagi ke sini."
Momen kecil seperti ini yang selalu bikin saya merasa pekerjaan ini ada gunanya. Integrasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) memang dirancang supaya masyarakat, terutama di daerah dengan akses yang sulit seperti tempat saya bertugas, nggak perlu bolak-balik ke kantor pajak hanya demi urusan administratif semacam ini. Data terbaru bahkan mencatat sudah lebih dari 91% wajib pajak di Indonesia yang berhasil memadankan NIK dan NPWP-nya, angka yang menurut saya cukup melegakan mengingat betapa luas dan beragamnya kondisi geografis negara kita.
Ujian Kecil yang Ternyata Nggak Pernah Berhenti Datang
Beberapa minggu setelah itu, saya melayani seorang ibu pedagang hasil bumi lewat panggilan telepon, membantu beliau memahami cara lapor SPT Tahunan lewat Coretax. Prosesnya cukup panjang, karena sinyal di kampungnya naik-turun, membuat saya harus mengulang penjelasan beberapa kali.
Selesai proses itu, ibu tersebut berkata penuh syukur, "Bapak, sa pu (saya punya) rejeki dari jual kemiri kemarin. Nanti sa kirim sudah pulsa buat bapak, biar sa pu utang budi terbayar."
Saya tersenyum, lalu menjelaskan pelan-pelan bahwa saya tidak bisa menerima itu, karena termasuk gratifikasi, sekecil apa pun bentuknya. "Ibu, layanan ini memang tugas kami, gratis, nggak perlu bayar apa-apa. Ucapan terima kasih Ibu tadi saja sudah cukup jadi bekal saya bekerja," jawab saya, sambil rekan saya di sebelah ikut menimpali dengan candaan ringan supaya suasana tetap cair.
Bagi saya dan rekan-rekan seangkatan yang sama-sama ditempatkan jauh dari kampung halaman, momen semacam ini jadi pengingat, bahwa di institusi tempat kami mengabdi, Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak, menjaga integritas itu bukan slogan semata, melainkan harga yang tidak bisa ditawar, sekecil dan sesepi apa pun penempatan kami.
Rindu yang Datang di Waktu yang Nggak Terduga
Malam harinya, setelah lelah seharian, saya rebahan sambil menatap langit-langit kamar kos. Pikiran saya melayang ke rumah, ke Bapak dan Ibu yang jaraknya ribuan kilometer dari sini. Belum sempat rindu itu membesar, ponsel saya bergetar. Panggilan video dari Bapak.
"Nak, di sana aman-aman saja? Bapak lihat berita katanya cuaca ekstrem di sana," suara Bapak terdengar khawatir seperti biasa.
Kami mengobrol panjang, soal kabar masing-masing, soal tetangga yang baru punya cucu, soal kucing peliharaan di rumah yang katanya makin gendut. Di penghujung obrolan, Bapak berpesan supaya saya jangan lupa pulang saat cuti nanti, karena Ibu katanya sudah menyiapkan menu masakan favorit saya.
Sudah Lebih dari Setahun di Tanah Perantauan Ini
Genap setahun lebih saya bertugas di unit penempatan saya sekarang, sejak pengumuman penempatan pegawai DJP membawa saya ke salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur. Awalnya, Ibu sempat menangis diam-diam ketika tahu jarak antara rumah dan tempat tugas saya. Tapi seperti kebanyakan orang tua pegawai negeri lainnya, akhirnya beliau ikhlas melepas saya demi menjalankan amanah negara.
Di sini saya tidak sendirian. Rekan-rekan seangkatan yang sama-sama jauh dari keluarga menemukan cara masing-masing untuk bertahan. Salah satu senior pernah berpesan ke saya, intinya, kenyamanan itu bukan sesuatu yang harus dicari-cari, melainkan sesuatu yang perlu kita ciptakan sendiri di mana pun kita ditempatkan.
Sejak itu, saya mulai "menciptakan" kenyamanan versi saya sendiri. Salah satunya lewat menjelajah keindahan alam Sumba yang, jujur saja, jarang saya bayangkan sebelumnya akan seindah ini, mulai dari padang savana sampai pantai-pantai tersembunyi yang saya kunjungi bersama rekan sesama perantau.
Obrolan-Obrolan Kecil yang Ternyata Menyembuhkan
Selain menjelajah alam, saya juga menemukan kenyamanan lewat obrolan-obrolan ringan dengan wajib pajak yang saya layani. Ada yang cerita soal anaknya yang baru lulus kuliah, ada yang curhat soal harga hasil kebun yang sedang anjlok, ada juga yang sekadar berbagi cerita lucu tentang kampungnya. Percaya atau tidak, momen-momen sederhana semacam itu justru jadi obat kangen paling ampuh buat saya, meski cuma sementara.
Tapi sesibuk dan senyaman apa pun kondisi yang sudah saya ciptakan di tanah rantau ini, ada satu hal yang saya pegang teguh: jangan pernah lupa pulang. Karena pasti ada yang menanti di rumah, entah Ibu yang sudah menyiapkan masakan kesukaan, Bapak yang kangen berbincang panjang, atau adik yang kangen diajak bercanda seperti dulu.
Yang Saya Pahami dari Perjalanan Ini
Kalau saya rangkum, ada beberapa hal yang saya pegang selama bertugas jauh dari rumah:
- Integrasi NIK-NPWP benar-benar membantu masyarakat di daerah terpencil, mengurangi kebutuhan mereka bolak-balik ke kantor pajak yang jaraknya bisa puluhan kilometer.
- Integritas tidak mengenal jarak maupun kecilnya nilai gratifikasi. Sekecil apa pun bentuknya, pulsa maupun barang, tetap harus ditolak sesuai aturan yang berlaku.
- Menciptakan kenyamanan sendiri di tempat tugas jauh dari rumah itu penting, tapi jangan sampai itu membuat kita lupa bahwa rumah dan keluarga tetap menanti untuk didatangi kembali.
Bagi saya dan rekan-rekan sesama insan DJP yang bertugas jauh dari kampung halaman, komitmen kami sederhana: menjalankan amanah negara sepenuh hati, sambil tetap menjaga janji untuk selalu pulang, karena bagaimanapun jauhnya langkah kita pergi, di situlah kita akan selalu tahu untuk apa dan untuk siapa kita bekerja.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Q: Apakah wajib pajak masih perlu membuat kartu NPWP terpisah?
Tidak. NIK yang tercantum di KTP kini berfungsi sekaligus sebagai NPWP, sehingga wajib pajak tidak perlu lagi membuat kartu NPWP fisik terpisah selama datanya sudah dipadankan dalam sistem.
Q: Berapa persentase wajib pajak yang sudah memadankan NIK dan NPWP-nya?
Berdasarkan data terbaru, lebih dari 91% wajib pajak di Indonesia telah berhasil mengintegrasikan NIK dan NPWP mereka.
Q: Apakah pegawai DJP boleh menerima pulsa atau barang kecil sebagai ucapan terima kasih?
Tidak. Sekecil apa pun bentuknya, termasuk pulsa, pemberian yang berkaitan dengan jabatan tetap dikategorikan sebagai gratifikasi dan wajib ditolak sesuai aturan integritas yang berlaku di lingkungan Kementerian Keuangan dan DJP.
Q: Bagaimana proses penempatan pegawai DJP ke berbagai daerah di Indonesia?
Penempatan pegawai DJP dilakukan melalui pengumuman resmi penempatan pegawai, yang dapat menugaskan pegawai ke berbagai unit kerja di seluruh Indonesia, termasuk daerah-daerah dengan akses yang cukup menantang.
Q: Bagaimana cara pegawai DJP di daerah terpencil membantu wajib pajak melaporkan SPT Tahunan?
Pegawai DJP dapat memberikan asistensi melalui panggilan telepon, WhatsApp, atau kunjungan langsung, membimbing wajib pajak menggunakan sistem Coretax meski dengan keterbatasan akses internet di beberapa wilayah.
Q: Apa yang dimaksud dengan "menciptakan kenyamanan" dalam konteks penempatan tugas jauh dari rumah?
Ini merujuk pada sikap proaktif pegawai dalam membangun kondisi yang membuat mereka betah bekerja di lokasi penempatan, misalnya lewat menjelajahi keindahan alam sekitar atau membangun kedekatan dengan wajib pajak yang dilayani.
Q: Kenapa integritas dianggap sangat penting bagi pegawai DJP?
Karena integritas menjadi fondasi kepercayaan publik terhadap institusi perpajakan, sehingga penolakan terhadap segala bentuk gratifikasi menjadi komitmen yang tidak bisa ditawar, di mana pun lokasi penugasannya.
Q: Apakah semua layanan yang diberikan DJP kepada wajib pajak berbayar?
Tidak. Seluruh layanan yang diberikan DJP kepada wajib pajak bersifat gratis, tanpa dipungut biaya dalam bentuk apa pun.
Q: Apa pesan utama dari kisah penempatan pegawai DJP yang jauh dari keluarga ini?
Pesannya adalah pentingnya menjalankan tugas negara dengan penuh integritas dan dedikasi, sambil tetap menjaga hubungan dan komitmen untuk pulang kepada keluarga yang menanti di kampung halaman.
Bagikan Artikel Ini