Bapak Cuma Titip Tiga Pesan Sebelum Berpulang, dan Satu di Antaranya Baru Saya Pahami Sepenuhnya di Usia Kerja Belasan Tahun
Beranda Artikel Integritas / Kisah Insan DJP / Kode Etik

Bapak Cuma Titip Tiga Pesan Sebelum Berpulang, dan Satu di Antaranya Baru Saya Pahami Sepenuhnya di Usia Kerja Belasan Tahun

Redaksi InfoPajak 2026-07-22 7 Menit Baca
Ilustrasi refleksi pegawai pajak tentang integritas dalam pekerjaan sehari-hari
Ilustrasi refleksi pegawai pajak tentang integritas dalam pekerjaan sehari-hari
TL;DR: Pesan sederhana dari almarhum Bapak soal integritas baru benar-benar saya pahami setelah belasan tahun bekerja di DJP, justru dari hal-hal yang terlihat sepele.

Dulu, waktu saya masih SD, Bapak sering mengajak saya duduk di gubuk kecil belakang rumah sambil menyeruput teh melati hangat, memandangi petak sawah yang mulai menghijau selepas musim tanam. Di salah satu sore itu, Bapak berkata pelan, "Nak, kalau besar nanti, pegang teguh tiga hal ini: jaga sholatmu, jaga omonganmu supaya sama dengan perbuatanmu, dan jangan pernah remehkan hal-hal kecil."

Waktu itu saya cuma mengangguk sambil sibuk mengejar capung yang hinggap di pematang. Saya tidak benar-benar paham maksudnya. Baru belasan tahun kemudian, setelah bekerja di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan berpindah tugas di beberapa unit kerja, saya benar-benar mengerti, terutama pesan ketiga yang dulu saya anggap paling sepele.

Dua Pesan Pertama yang Relatif Mudah Saya Pegang

Pesan pertama soal menjaga ibadah, bagi saya relatif jadi kompas batin yang cukup jelas arahnya. Kalau kita percaya ada yang mengawasi setiap langkah kita, otomatis ada rem alami dalam diri sebelum melakukan sesuatu yang keliru.

Pesan kedua, soal konsistensi ucapan dan perbuatan, sering disebut orang sebagai integritas. Ini juga relatif mudah dipahami secara konsep, meski dalam praktiknya jelas butuh perjuangan, apalagi bekerja di institusi seperti DJP yang setiap hari berinteraksi langsung dengan wajib pajak, dengan potensi godaan yang nyata di depan mata.

Pesan Ketiga Justru yang Paling Menampar, Belakangan Ini

Pesan ketiga, jangan meremehkan hal kecil, justru baru benar-benar saya pahami setelah bertahun-tahun bekerja. DJP sendiri terus memperkuat pengawasan integritas berjenjang di setiap level jabatan, lewat Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai (KEKP) yang mengatur standar perilaku pegawai, bukan cuma soal korupsi, kolusi, nepotisme, suap, atau gratifikasi yang sering jadi sorotan utama, tapi juga hal-hal kecil dalam keseharian kerja yang jarang dianggap serius.

Beberapa waktu lalu, saya sempat merenungkan kebiasaan-kebiasaan kecil saya sendiri di kantor, dan jujur saja, itu bikin saya agak gelisah.

Kebiasaan Titip Presensi yang Saya Anggap "Cuma Sekali-Sekali"

Suatu pagi, rekan satu seksi saya buru-buru ke dokter gigi sebelum jam masuk kantor. Dia titip pesan lewat grup WhatsApp, "Bro, tolong absenin gue ya, bentar lagi juga nyusul kok." Refleks, saya iyakan saja, karena menganggap ini hal kecil yang lumrah dilakukan sesama rekan kerja.

Tapi belakangan saya berpikir ulang, sekecil apa pun itu, "titip presensi" tetap bentuk ketidakjujuran administratif. Kalau saya membiasakan diri menganggap itu wajar, lama-lama standar saya sendiri soal kejujuran kecil bisa bergeser tanpa saya sadari.

Kebiasaan Mencetak Dokumen Pribadi Pakai Printer Kantor

Ada juga momen ketika saya butuh mencetak dokumen keperluan pribadi, semisal surat keterangan untuk anak sekolah, dan tanpa pikir panjang saya cetak saja pakai printer dan kertas kantor. "Ah, cuma beberapa lembar juga," pikir saya waktu itu.

Tapi kalau direnungkan, penggunaan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, sekecil apa pun nilainya, sebenarnya sudah menyalahi batas yang semestinya dijaga. Kalau semua pegawai berpikir "ah cuma sedikit", akumulasinya di institusi sebesar Kementerian Keuangan dan DJP bisa jadi jumlah yang tidak kecil lagi.

Kebiasaan Menunda Pekerjaan Sambil Berdalih "Nanti Juga Selesai"

Yang paling sering saya lakukan justru soal manajemen waktu kerja. Saya kerap menunda pekerjaan sambil scrolling media sosial sebentar, dengan alasan "istirahat otak dulu", padahal kalau ditotal, waktu "sebentar" itu bisa menumpuk jadi berjam-jam dalam sepekan. Saya jadi mempertanyakan diri sendiri, apakah tunjangan kinerja yang saya terima setiap bulan itu benar-benar sepadan dengan kontribusi optimal yang saya berikan, atau justru saya sedang menikmati sesuatu yang belum sepenuhnya saya perjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Kenapa Hal Kecil Ini Justru Lebih Berbahaya dari yang Saya Kira

Ada pepatah yang kerap diucapkan dalam berbagai forum integritas, kira-kira begini maksudnya: biasakanlah yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Kalimat sederhana ini menempeleng saya cukup keras. Kebiasaan kecil yang terus dianggap wajar, lama-lama bisa membentuk standar baru yang keliru, bahkan bisa membuat orang yang justru menolak melakukannya jadi terlihat aneh sendiri di lingkungannya.

Hal kecil negatif ini ibarat gerimis tipis. Tidak langsung membuat basah kuyup dalam sekejap, tapi kalau dibiarkan terus-menerus tanpa berteduh, lambat laun tetap bisa membasahi seluruh tubuh, dalam hal ini, menggerogoti integritas seseorang secara perlahan tanpa disadari.

Tapi Hal Kecil Juga Bisa Jadi Kekuatan, Bukan Cuma Ancaman

Untungnya, logika ini juga berlaku sebaliknya. Kalau hal kecil negatif bisa menggerogoti integritas, hal kecil positif yang dijaga konsisten juga bisa memperkuat institusi secara keseluruhan. Bayangkan kalau seluruh pegawai benar-benar disiplin memanfaatkan jam kerja secara optimal, jujur soal presensi, dan menggunakan fasilitas kantor sesuai peruntukannya. Efeknya bukan cuma soal citra institusi, tapi juga soal kinerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat sebagai wajib pajak.

Yang Saya Bawa dari Perjalanan Merenungi Pesan Bapak

Sudah lebih dari sepuluh tahun Bapak berpulang, tapi pesan sederhana di gubuk belakang rumah itu masih terus saya kunyah maknanya sampai sekarang. Beberapa hal yang saya pegang setelah perenungan ini:

  • Integritas bukan cuma soal godaan besar seperti suap atau gratifikasi, tapi juga soal kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele dalam keseharian kerja.
  • Kebiasaan kecil yang dibiarkan bisa bergeser jadi standar baru yang keliru, terutama kalau semakin banyak orang menganggapnya wajar.
  • Sebaliknya, konsistensi menjaga hal kecil justru bisa jadi fondasi kekuatan institusi, bukan cuma bagi diri sendiri, tapi bagi kepercayaan publik terhadap DJP dan Kementerian Keuangan secara keseluruhan.

Pesan Bapak yang dulu saya anggap paling sepele, ternyata justru jadi pekerjaan rumah paling panjang untuk terus saya perbaiki, bahkan setelah bertahun-tahun mengabdi. Dan mungkin, itulah cara Bapak mengajarkan saya bahwa integritas bukan tujuan yang sekali dicapai lalu selesai, melainkan perjalanan yang harus terus dijaga, sekecil apa pun godaannya.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Q: Apa saja aspek integritas yang diatur dalam Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai (KEKP) DJP?

KEKP mengatur standar perilaku pegawai secara luas, mencakup larangan korupsi, kolusi, nepotisme, suap, dan gratifikasi, sekaligus aspek perilaku sehari-hari seperti kedisiplinan, kejujuran administratif, dan penggunaan fasilitas kantor secara tepat.

Q: Kenapa "titip presensi" antar-rekan kerja termasuk pelanggaran integritas?

Karena tindakan tersebut merupakan bentuk ketidakjujuran administratif, meski terlihat sepele, yang dapat menciptakan kebiasaan buruk jika terus dibiarkan dan dianggap wajar.

Q: Apakah menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi termasuk pelanggaran integritas?

Ya. Penggunaan fasilitas kantor seperti printer, alat tulis, atau kendaraan dinas untuk kepentingan pribadi, sekecil apa pun nilainya, termasuk kebiasaan yang dapat melemahkan integritas jika dibiarkan menjadi kebiasaan.

Q: Apa maksud dari ungkapan "biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa"?

Ungkapan ini mengingatkan bahwa kebiasaan yang salah namun dianggap wajar oleh banyak orang tidak serta-merta menjadi benar, sehingga penting untuk tetap berpegang pada standar yang benar meski berbeda dari kebiasaan mayoritas.

Q: Kenapa hal-hal kecil dianggap lebih berbahaya dibanding pelanggaran integritas besar?

Karena hal kecil sering luput dari perhatian dan mudah dianggap wajar, sehingga dapat menggerogoti integritas secara perlahan tanpa disadari, berbeda dengan pelanggaran besar yang biasanya lebih mudah terdeteksi.

Q: Bagaimana dampak kebiasaan kecil positif terhadap institusi seperti DJP?

Kebiasaan kecil positif yang dijaga konsisten oleh seluruh pegawai dapat memperkuat kinerja institusi secara keseluruhan, sekaligus membangun kepercayaan publik yang lebih baik terhadap pelayanan pajak.

Q: Apa hubungan antara pemanfaatan jam kerja dan integritas pegawai?

Pemanfaatan jam kerja yang optimal mencerminkan tanggung jawab pegawai terhadap tunjangan kinerja yang diterima, sehingga penggunaan waktu kerja untuk kepentingan pribadi secara berlebihan juga dapat dipandang sebagai persoalan integritas.

Q: Apakah integritas hanya berkaitan dengan interaksi pegawai dengan wajib pajak?

Tidak. Integritas juga mencakup perilaku internal pegawai dalam keseharian kerja, seperti kedisiplinan presensi, penggunaan fasilitas kantor, dan pengelolaan waktu kerja, terlepas dari ada tidaknya interaksi langsung dengan wajib pajak.

Q: Bagaimana cara DJP menjaga pengawasan integritas pegawainya?

DJP menerapkan pengawasan integritas secara berjenjang di setiap level jabatan, didukung kerangka Kode Etik dan Kode Perilaku Pegawai, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan memperkuat budaya integritas di seluruh unit kerja.

Q: Apa pesan utama dari refleksi tentang menjaga hal-hal kecil dalam bekerja?

Pesannya adalah bahwa integritas bukan pencapaian sekali jadi, melainkan proses berkelanjutan yang dimulai dari konsistensi menjaga hal-hal kecil dalam keseharian, karena kebiasaan kecil, baik positif maupun negatif, memiliki dampak kumulatif yang signifikan.

Bagikan Artikel Ini