Permintaan INALUM Terkait MobiL Listrik
Permintaan INALUM Terkait MobiL Listrik

Permintaan INALUM Terkait MobiL Listrik

INALUM permintaan terkait insentif berupa royalty sebesar 0% terhadap pengolahan nikel kadar rendah untuk produksi mobil listrik.
INALUM permintaan terkait insentif berupa royalty sebesar 0% terhadap pengolahan nikel kadar rendah untuk produksi mobil listrik.

Baru-baru ini Orias Petrus Moedak selaku Direktur Utama dari INALUM atau PT Indonesia Asahan Aluminium menunjukkan permintaan terkait insentif berupa royalty sebesar 0% terhadap pengolahan nikel kadar rendah untuk produksi mobil listrik. Adanya permohonan ini bertujuan untuk mendorong produksi dari industri.

Permintaan INALUM Terkait MobiL Listrik
Permintaan INALUM Terkait MobiL Listrik

Orias juga menjelaskan bahwa dorongan itu berguna untuk produksi baterai yang memang dibutuhkan oleh mobil berbasis listrik. Orias menginginkan insentif yang diperolehnya ini sama halnya dengan batu bara yang sebelumnya dikenakan royalty sebesar 0% lewat Undang-Undang Cipta Kerja.

Dalam kutipan dari DDTC News Orias memaparkan pertanyaan lewat webinar untuk pihak pemerintah. Menurutnya batu bara sudah mendapatkan izin produksi yang royaltinya mencapai 0%, dan apakah hal ini juga berlaku pada  nikel yang berkadar rendah.

Selama ini nikel kadar rendah ini hanyalah dinilai sebagai logam ikutan. Namun seiring dengan rencana pemerintah yang terus memberikan dorongan terhadap produksi mobil listrik membuat kadar nikel tersebut naik. Tentunya ini disebabkan nikel menjadi bahan utama baterai yang digunakan oleh mobil listrik tersebut.

Orias mengungkapkan akan insentif nikel kadar rendah dapat dimasukkan kedalam kebijakan Minerba di Indonesia. Apabila insentif royalty mencapai 0% maka akan ada beberapa produsen yang ikut menciptakan mobil listrik. Sedangkan untuk saat ini pemerintah sudah memberikan tugas kepada 4 BUMN.

Guna memperkembangkan industri baterai yang memang merupakan salah satu sumber energi untuk mobil basis listrik. Adapun keempat BUMN tersebut adalah PT PLN, INALUM, Pertamina, dan PT Aneka Tambang Tbk.

Untuk sekarang royalty pada nikel kadar rendah dibagi pemerintah menjadi 3 kelompok yaitu produk nikel, windfall profit yang harga per tonnya US $ 21.000, dan bijih nikel. Selain persoalan royalty Orias juga mengajukan permohonan kepada pemerintah supaya memberikan kepastian terhadap pengembalian dana investasi.

Hal ini berkaitan dengan BUMN yang menjalani kewajiban dan tugasnya. Contohnya saja ketika melakukan penyiapan suatu kawasan, penugasan, penelitian, dan lain sebagainya. Di DDTC News Orias juga membeberkan telah menyerahkan sejumlah data ke pihak kementerian, sehingga pengembalian investasi tentu ada.

Reffy Elsa Revanda
Umur gue 21 tahun, tinggal di Lampung. Morning person yang suka dengan hal-hal baru. Pernah terlibat diprojek web building, desain grafis, data scientist, dan social media strategist. Sekarang lagi ngerjain projek infopajak.co.id bareng teman-teman.