Menghitung Pajak Penghasilan Duel Dewa Kipas VS GM Irene

Duel Dewa Kipas VS GM Irene ini disertai pemberian hadiah untuk kedua pemain. Lalu bagaimana perhitungan pajak yang harus disetor ke kas negara? Mari kita kupas!
Duel Dewa Kipas VS GM Irene ini disertai pemberian hadiah untuk kedua pemain. Lalu bagaimana perhitungan pajak yang harus disetor ke kas negara? Mari kita kupas!
Menghitung Pajak Penghasilan Duel Dewa Kipas VS GM Irene
Menghitung Pajak Penghasilan Duel Dewa Kipas VS GM Irene

Duel Dewa Kipas VS GM Irene – Dewa Kipas alias Dada Subur kalah telak dari Grand Master (GM) Irene Kharisma Sukandar dalam duel laga catur  pada Senin (22/3/2021) sore , yang ditayangkan pada kanal akun youtube Deddy Corbuzier . Dari empat pertandingan dengan durasi masing – masing 10 menit, tiga pertandingan telah dimenangkan oleh GM Irene sehingga pertandingan ke empat sudah tidak lagi diperlukan.

A: Gimana bro udah nonton Dewa Kipas VS GM Irene Sukandar ga? Tayang di Youtube Deddy Corbuzier.

B: Gila si, aku yang nonton aja bingung. Gimana yang main?

A: Akhirnya ya setelah rame, ada juga duel caturnya. Hadiahnya menarik pula totalnya 300 juta.

B: Buset, banyak juga ya. Tapi dipotong pajak gak ya?

A: Jelas lah , sini aku kasih tau perhitungannya.

Duel laga catur ini disertai pemberian hadiah untuk kedua pemain. Youtuber Deddy Corbuzier, selaku pihak yang memfasilitasi laga tersebut memang sejak awal menyiapkan total hadiah sebesar Rp 300 juta. Kedua pemain tersebut dipastikan mendapatkan hadiah baik pemain yang menang maupun pemain yang kalah namun dengan nominal berbeda. Pemenang laga akan mendapatkan Rp 200 juta dan yang kalah akan mendapat Rp 100 juta. Dalam hal ini, GM Irene Sukandar pihak pemenang berhak membawa pulang Rp 200 juta, sedangkan Dewa Kipas alias Dadang Subur berhak mengantongi Rp 100 juta dari laga ini. Youtuber Deddy Corbuzier juga mengatakan bahwa pajak yang timbul dari hadiah tersebut ditanggung sepenuhnya oleh para pemain. Lalu bagaimana perhitungan pajak yang harus disetor ke kas negara? Mari kita kupas!

Dasar Hukum

                   Menurut UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang pajak penghasilan (PPh), yang ditegaskan Kembali pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2015 tentang pengenaan pajak penghasilan atas hadiah dan penghargaan ,jenis hadiah setidaknya digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu hadiah undian dan hadiah penghargaan.

  1. Hadiah Undian

Dikutip pada PER-11/PJ/2015 Pasal 1 ayat 1 ,Hadiah undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan melalui undian. Penghasilan yang berasal dari hadiah undian merupakan objek PPh Pasal 4 ayat 2 yang bersifat final. Artinya, mekanisme penarikan pajaknya telah dianggap selesai pada saat dilakukan pemotongan, pemungutan, atau penyetoran sendiri dari wajib pajak yang bersangkutan. Tarif yang dikenakan yaitu sebesar 25% dari penghasilan kotor yang diterima oleh wajib pajak. Sehingga wajib pajak dapat mencantumkan penghasilan pada lampiran PPh Final SPT Tahunannya.

  1. Hadiah Penghargaan

                Dikutip pada PER-11/PJ/2015 Pasal 1 ayat 2, hadiah atau penghargaan perlombaan adalah hadiah atau penghargaan yang diberikan melalui suatu perlombaan atau adu ketangkasan. Sedangkan Pasal 1 ayat 4 berbunyi penghargaan adalah imbalan yang diberikan sehubungan dengan prestasi dalam kegiatan tertentu. Penghasilan yang berasala dari hadiah penghargaan ini merupakan objek PPh tidak final. Artinya, wajib pajak harus mencantumkan sebagai tambahan penghasilan yang nantinya akan dihitung menjadi satu atas seluruh penghasilannya selama satu tahun pada SPT Tahunannya. Tarif pajaknya pun berbeda-beda sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat 2 PER-11/PJ/2015 sebagai berikut :

  • dalam hal penerima penghasilan adalah orang pribadi Wajib Pajak dalam negeri, dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 sebesar tarif Pasal 17 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dari jumlah penghasilan bruto;
  • dalam hal penerima penghasilan adalah Wajib Pajak luar negeri selain Bentuk Usaha Tetap, dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto dengan memperhatikan ketentuan dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang berlaku;
  • dalam hal penerima penghasilan adalah Wajib Pajak badan termasuk Bentuk Usaha Tetap, dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan berdasarkan Pasal 23 ayat (1) huruf a angka 4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, sebesar 15% (lima belas persen) dari jumlah penghasilan bruto.

Simulasi Perhitungan Pajak Duel Dewa Kipas VS GM Irene

                Dari penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa hadiah duel laga Dewa Kipas alias Dadang Subur VS GM Irene Kharisma Sukandar termasuk dalam kategori hadiah penghargaan, yang dikenakan PPh Pasal 21 sebesar tarif Pasal 17 UU PPh.  Berikut simulasinya :

  1. Simulasi Perhitungan PPh untuk GM Irene yang mendapatkan hadiah dengan nominal sejumlah Rp 200 Juta.

Penghasilan :  Rp 200 Juta

Perhitungan pajak :

5% x 50 juta = Rp 2,5 Juta

15%x (200-50)Juta = Rp 22,5 Juta

Total Pajak = Rp 25 Juta

Jumlah hadiah dikurangi pajak = Rp 200 Juta – Rp 25 Juta = Rp 175 Juta

  1. Simulasi Perhitungan PPh untuk Dewa Kipas yang mendapatkan hadiah dengan nominal sejumlah Rp 100 Juta.

Penghasilan : Rp 100 Juta

Perhitungan Pajak :

5% x 50 Juta = Rp 2,5 Juta

15% x (100-50) Juta = Rp 7,5 Juta

Total Pajak = Rp 10 Juta

Jumlah hadiah dikurangi pajak = Rp 100 Juta – Rp 10 Juta = Rp 90 Juta

*)Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja